Rabu, 14 Desember 2011

Routing Statis

Konsep Routing Statis

Routing statis terjadi jika kita secara manual menambah route-route di routing table dari setiap router. Terdapat pro dan kontra terhadap routing statis, tetapi itu juga berlaku untuk semua proses routing
Konsep dasar routing statis adalah sebagai berikut :
1.      Digunakan untuk pengaturan jalur antar network seqment berdasarkan IP address tujuan(asal) pada osi layer network
2.      Tiap network seqment mempunyai subnet network yang berbeda-beda
3.      Memunkinkan kita melakukan pemantauan dan pengelolaan jaringan yang lebih baik
4.      Lebih aman (firewall filtering lebih mudah)
5.      Trafik broadcast hanya konsentrasi di setiap subnet.

.Pengertian Routing Statis

Routing bisa diartikan sebagai proses membawa packet data dari satu host ke host yang lain tetapi berbeda subnet.
Informasi yang Dibutuhkan Router
7  Alamat Tujuan/Destination Address - Tujuan atau alamat host yang akan dirouting
7  Mengenal sumber informasi - Dari mana sumber (router lain) yang dapat dipelajari oleh router dan memberikan jalur sampai ke tujuan.
7  Menemukan rute - Rute atau jalur mana yang mungkin diambil sampai ke tujuan.
7  Pemilihan rute - Rute yang terbaik yang diambil untuk sampai ke tujuan.
7  Menjaga informasi routing - Suatu cara untuk menjaga jalur sampai ke tujuan yang sudah diketahui dan paling sering dilalui.
Sedangkan Routing Statis adalah Rute Statik adalah rute atau jalur spesifik yang ditentukan oleh user untuk meneruskan paket dari sumber ke tujuan. Rute ini ditentukan oleh administrator untuk mengontrol perilaku routing dari IP “internetwork”. Rute Statik menjadi sangat penting jika software IOC Cisco tidak bisa membentuk sebuah rute ke tujuan tertentu. Rute Statik juga sangat berguna untuk membuat “gateway” untuk semua paket yang tidak bisa di”routing”.(default route).

Cara Kerja Routing statis
Cara kerja routing statis dapatdibagi menjadi 3 bagian:
a.        Administrator jaringanyang mengkonfigurasi router
b.      Router melakukanrouting berdasarkaninformasi dalam tabel routing
c.       Routing statis digunakan untuk melewatkanpaket data
Seorang administrator harus menggunakanperintah ip route secara manual untuk mengkonfigurasi router denganrouting statis.




Pada gambar 2.2 dan 2.3 di atas, administrator jaringan dari router Hoboken harus mengkonfigurasi routing statis ke jaringan 172.16.1.0/24 dan 172.16.5.0/24. Karena itu administrator memasukkan 2 perintah ke router. Administrative distance adalah parameter tambahan yang menunjukkan reliabilitas dari rute. Semakin kecil nilai administrative distance semakin reliable rutenya. Oleh Karen itu rute dengan administrative distance yang lebih kecil harus diberikan pertama kali sebelum administrative distance yang lebih besar diberikan. Default administrative distance saat menggunakan routing statis adalah 1. ketika interface luar dikonfigurasi sebagai gateway, routing statis akan ditunjukkan dalam tabel routing sebagai informasi yang “directly connected”. Untuk melihat informasi administrative distance digunakan perintah show ip route. Nilai dari administrative distance adalah antara 0 sampai dengan 255 yang diberikan setelah next-hop atau outgoing interface. Contoh:
waycross(config)#ip route 172.16.3.0 255.255.255.0 172.16.4.1 130




Tabel Router
v  Sebuah router mempelajari informasi routing dari mana sumber dan tujuannya yang kemudian ditempatkan pada tabel routing. Router akan berpatokan pada tabel ini, untuk memberitahu port yang akan digunakan untuk meneruskan paket ke alamat tujuan.
v  Jika jaringan tujuan, terhubung langsung (directly connected) di router, Router sudah langsung mengetahui port yang harus digunakan untuk meneruskan paket.
v  Jika jaringan tujuan tidak terhubung langsung di badan router, Router harus mempelajari rute terbaik yang akan digunakan untuk meneruskan paket.

Konfigurasi routing statis
Langkah-langkah untuk melakukan konfigurtasi routing statis adalah sebagai berikut:
a.       langkah 1 – tentukan dahulu frefix jaringan, subnet mask dan addres. Addres bisa saja interface local atau next hop addres yang menuju tujuan.
b.      Langkah 2 – masuk ke mode global configuration.
c.       Langkah 3 – ketik perintah ip route dengan prefix dam mask yang diikuti dengan address seperti yang sudah ditentukan di langkah 1.
d.      Langkah 4 – ulangi langkah 3 untuk semua jaringan yang dituju yang telah ditentukan pada langkah
e.       Langkah 5 – keluar dai mode global configuration.
f.       Langkah 6 – gunakan perintah copy running-config startup-config untuk menyimpan konfigurasi yang sedang aktif ke NVRAM.

Mengkonfigurasi Rute statik adalah dengan memasukkan tabel routing secara manual. Tidak terjadi perubahan dinamik dalam tabel ini selama jalur/rute aktif.
7  Perintah “ip route”
      Perintah “ip route” digunakan untuk mengkonfigurasi sebuah rute statik dalam mode konfigurasi global.
7  ip route Command Syntax
      Sintak untuk perintah “ip route” adalah sebagai berikut :
ip route network [mask] {address | interface}[distance] [permanent]
      Parameter Perintah “ip route”
                        network : Network atau subnet tujuan
                        mask : Subnet mask
                        address : Alamat IP router Hop berikutnya.(IP address of next hop router)
                        interface : Nama interface yang digunakan untuk mencapai network tujuan. Interface dapat berupa interface point-to-point. Perintah tidak akan berfungsi jika interface adalah multiaccess (contoh “shared media Ethernet interface”).
                        distance (Optional) : Mendefinisikan “administrative distance”.
                        permanent (Optional) : Menyatakan bahwa rute tidak akan dihapus, ketika interface mati (shuts down).
Contoh Konfigurasi Rute Statik


      Tugas rute statik untuk mencapai stub network 172.16.1.0 adalah melalui Router A karena hanya ini satu-satunya jalan untuk mencapai network 172.16.1.0.
      Contoh rute statik:
Router(config)#ip route 172.16.1.0 255.255.255.0 172.16.2.1
           
ip route : Identifikasi rute statik
172.16.1.0 : Alamat IP Stub Network
255.255.255.0 : Subnet Mask
172.16.2.1 : Alamat IP Router B
Catatan : Ini adalah sebuah rute “unidirectional”. Anda harus mengkonfigurasi rute dari arah/sisi lawan (Router B).
Default Route
Default route” adalah tipe rute statik khusus. Sebuah “default route” adalah rute yang digunakan ketika rute dari sumber/source ke tujuan tidak dikenali atau ketika tidak terdapat informasi yang cukup dalam tabel routing ke network tujuan.
Pada gambar di atas, Router B dikonfigurasi untuk meneruskan/forward semua frame ke network tujuan yang tidak terdaftar secara eksplisit dalam routing tabel Router A.
Contoh “Default Route”
      Router(config)#ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 172.16.2.2
      ip route : Menyatakan rute statik
0.0.0.0 : Rute ke “nonexistent subnet”(mencakup semua IP)
0.0.0.0 : Special mask mengindikasikan “default route”
172.16.2.2: Alamat IP Router A.
Keuntungan Dan Kerugian Routing Statis
Keuntungan Routing Statik
      Meringankan kerja prosesor yg ada pd router
      Tidak ada Bandwidth yang digunakan untuk pertukaran informasi isi tabel routing antar router
      Tingkat keamanan lebih tinggi vs mekanisme lainnya
Kerugian Routing Statik
      Admin harus mengetahui informasi tiap2 router yg terhubung jaringan
      Jika terdapat penambahan/perubahan topologi jaringan admin harus mengubah isi tabel routing
      Tidak cocok untuk jaringan yang besar

TCP/IP Versi 6

IP versi 6 (IPv6) adalah protokol Internet versi baru yang didesain sebagai pengganti dari Internet protocol versi 4 (IPv4).
            Perubahan dari IPv4 ke IPv6 pada dasarnya terjadi karena beberapa hal yang dikelompokkan dalam kategori berikut :
            1. Kapasitas Perluasan Alamat
            IPv6 meningkatkan ukuran dan jumlah alamat yang mampu didukung oleh IPv4 dari 32bit menjadi 128bit. Peningkatan kapasitas alamat ini digunakan untuk mendukung peningkatan hirarki atau kelompok pengalamatan, peningkatan jumlah atau kapasitas alamat yang dapat dialokasikan dan diberikan pada node dan mempermudah konfigurasi alamat pada node sehingga dapat dilakukan secara otomatis.
            Peningkatan skalabilitas juga dilakukan pada routing multicast dengan meningkatkan cakupan dan jumlah pada alamat multicast. IPv6 ini selain meningkatkan jumlah kapasitas alamat yang dapat dialokasikan pada node juga mengenalkan jenis atau tipe alamat baru, yaitu alamat anycast. Tipe alamat anycast ini didefinisikan dan digunakan untuk mengirimkan paket ke salah satu dari kumpulan node.
            2. Penyederhanaan Format Header
            Beberapa kolom pada header IPv4 telah dihilangkan atau dapat dibuat sebagai header pilihan. Hal ini digunakan untuk mengurangi biaya pemrosesan hal-hal yang umum pada penanganan paket IPv6 dan membatasi biaya bandwidth pada header IPv6. Dengan demikian, pemerosesan header pada paket IPv6 dapat dilakukan secara efisien.
            3. Peningkatan dukungan untuk header pilihan dan header tambahan (Options and extention header)
            Adanya pengkodean header Options (pilihan) pada IP dimasukkan agar lebih efisien dalam penerusan paket (packet forwarding), agar tidak terlalu ketat dalam pembatasan panjangheader pilihan yang terdapat dalam paket IPv6 dan sangat fleksibel/dimungkinkan untuk mengenalkan header pilihan baru pada masa akan dating.
            4. Kemampuan pelabelan aliran paket
            Kemampuan atau fitur baru ditambahkan pada IPv6 ini adalahmemungkinkan pelabelan paket atau pengklasifikasikan paket yang meminta penanganan khusus, seperti kualitas mutu layanan tertentu (QoS) atau real-time.
            5. Autentifikasi dan kemampuan privasi
            Kemampuan tambahan untuk mendukung autentifikasi, integritas data dan data penting juga dispesifikasikan dalam alamat IPv6.
            Terminologi yang dikenal pada IPv6 :
¥  Node : Peralatan yang mengimplementasikan IPv6.
¥  Router : Node yang melewatkan paket IPv6.
¥  Host : Node lainnya yang tidak merupakan router.
¥  Upper-layer : Layer protocol yang secara langsung berada di atas IPv6. Sebagai contoh adalah protokol transport seperti TCP dan UDP, protokol control seperti ICMP, protokol routing seperti OSPF dan Internet atau protokol level bawah ditunnel melalui IPv6 seperti IPX, Appletalk, dan IPv6 sendiri (IPX over IPv6, Appletalk over IPv6 dan IPv6 over IPv6).
¥  Link : Fasilitas komunikasi atau medium, yaitu node dapat berkomunikasi pada layer link. Layer link ini yang secara langsung dibawah layerIPv6. Sebagai contoh dari link adalah Ethernet (secara sederhana maupun menggunakan bridge); link PPP; X.25, Frame Relay, atau jaringan ATM, dan layer Internet tunnel seperti tunnel melalui IPv4 atau IPv6 sendiri.
¥  Neighbors : Node lain yang dihubungkan dalam link yang sama
¥  Interface : Media penghubung dari node (berada pada node) ke jaringan.
¥  Address : Identifikasi pada layer IPv6 untuk interface atau sekumpulaninterface.
¥  Packet : Header IPv6 dan payload-nya (isi).
¥  Link MTU : Maximum transmission unit. Ukuran maksimum paket dalam ukuranbyte yang dapat disampaikan melalui link.
¥  Path MTU : Link MTU yang paling kecil dari semua link dalam path node asalsampai node tujuan.
Format header IPv6
Format header alamat IPv6 menyederhanakan formatheader pada alamat IPv4. Perbandingan antara format header IPv6 (Gambar II.1) dan IPv4 (Gambar II.2).
            IPv6 Extension Header (Header Tambahan IPv6)
            Dalam IPv6, pilihan informasi internet-layer di-encode dalam header-header yang terpisah yang mungkin diletakkan diantara header IPv6 dan header setingkat diatasnya dalam suatu paket. Ada sejumlah kecil header ekstensi yang serupa, setiap header tersebut diidentifikasi oleh suatu nilai Next Header yang pasti (fix). Sebagai ilustrasi dalam gambar II.3 contoh berikut ini, suatu paket IPv6 mungkin membawa nol, satu, atau lebih header ekstensi, setiap paket tersebut diidentifikasi oleh field Next Header dari header yang mendahului :
            Dengan satu pengecualian, header ekstensi tidak diuji atau diproses oleh node manapun sepanjang path pengiriman dari suatu paket, hingga paket mencapai node tersebut (atau setiap node dari sekelompok node, dalam hal multicast) yang diidentifikasi dalam field Destination Address dari header IPv6. Demultiplexing normal pada field Next Header dari header IPv6 membutuhkan modul tersebut untuk memproses header ekstensi awal, atau header setingkat diatasnya jika tidak terdapat header ekstensi. Isi dan maksud dari setiap header ekstensi menentukan perlu atau tidak untuk meneruskan ke header selanjutnya.
            Pengecualian di atas adalah header Hop-by-Hop Options, yang membawa informasi yang harus diuji dan diproses oleh setiap node sepanjang path pengiriman suatu paket, meliputi node sumber dan node tujuan. Saat terdapat header Hop-by-Hop Options, harus segera mengiktui paket header IPv6. Keberadaannya ditandai oleh nilai nol dalam field Next Header dari header IPv6.
            Arsitektur Pengalamatan IP versi 6
            Alamat IPv6 adalah pengindetifikasi sepanjang 128 bit untuk interface dan sekumpulan interface. Sehingga secara logika IPv6 dapat menampung sekitar 3.4 x 1038 kemungkinan kombinasi alamat.Ada tuga tipe dari alamat IPv6 :
            a. Unicast : Pengidentifikasi untuk interface tunggal. Paket yang dikirimkan  ke alamat unocast adalah paket yang dikirimkan ke sebuah interface yang diidentifikasi oleh alamat tersebut.
            b. Anycast : Pengidentifikasi untuk sekumpulan interface (umumnya milik node yang berbeda). Paket yang dikirimkan ke 2 R. Hinden, S. Deering, 1998, IP Version 6 Addressing Architecture, Request for Comments 2373 alamat anycast adalah paket yang dikirimkan ke salah satu dari sekumpulan interface yang diidentifikasi oleh alamat tersebut (alamat yang paling dekat, mengacu pada pengukuran jarak dari protokol routing).
            c. Multicast : pengidentifikasi untuk sekumpulan interface (umumnya milik node yang berbeda). Paket yang dikirimkan ke alamat multicast adalah paket yang dikirimkan ke semua interface yang diidentifikasi oleh alamt tersebut.  Tidak ada alamat broadcast dalam IPv6, fungsi alamat broadcast digantikan oleh alamat multicast.
            Alamat pada IPv6
            Direpresentasikan dalam format heksa decimal bertitik. Dari 128 bit yang ada, dilakukan pemotongan menjadi 8 blok sama besar, masing-masing terdiri dari 16 bit dan dipisahkan oleh titik dua (:).
            Binernya :
            0010000111011010000000001101001100000000000000000010111100111011
            0000001010101010000000001111111111111110001010001001110001011010
           
            Setelah dibagi 8 menjadi :
            0010000111011010 : 0000000011010011 : 0000000000000000 : 0010111100111011
            0000001010101010 : 0000000011111111 : 1111111000101000 : 1001110001011010
           
            Heksa Desimalnya :
            21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A
            Alamat pada IPv6 dapat disederhanakan dengan menghilangkanangka 0 yang berada didepan. Walaupun demikian, setiap blok harus memiliki minimal 1 digit. Setelah disederhanakan, maka alamat IPv6 tersebut diatas akan menjadi :
            21DA:D3:0:2F3B:2AA:FF:FE28:9C5A
            Disamping itu, alamat IPv6 dapat disederhanakan dengan melakukan ZERO COMPRESSION, yaitu suatu metode menghilangkan 0 jika terdapat deretan 0 yang panjang per 16 bit (catatan penting: harus berderet dabn harus per 16 bit). Deretan 0 yang panjang ini kemudian diganti dengan symbol “::”.
            Contoh :
            1. FE80:0:0:0:2AA:FF:FE9A:4CA2 menjadi FE80:: 2AA:FF:FE9A:4CA2
            2. FF02:0:0:0:0:0:0:2 menjadi FF02::2
            3. FF02:30:0:0:0:0:0:5 menjadi FF02:30::5
            IPv6 dapat dikonfigurasi secara stateless autoconfiguration, artinya host akan mengikuti IP yang diberikan oleh router dijaringan tersebut. Berbeda dengan DHCP yang bersifat statefull autoconfiguration.
            Notasi untuk IPv6, menggunakan 4 huruf hexadesimal (0F) dan memiliki 8 group, dipisahkan dengan “:” (titik dua). IPv4 menggunakan bilangan desimal dari 0255 dan terdiri dari 4 group. Apabila pada IPv6 terdapat bilangan 0000, maka dapat disingkat menjadi (::). Contoh :
            2001:0db8:0000:0000:0000:0000:1428:57ab
            2001:0db8:0000:0000:0000::1428:57ab
            2001:0db8:0:0:0:0:1428:57ab
            2001:0db8:0:0::1428:57ab
            2001:0db8::1428:57ab
            2001:db8::1428:57ab
            Pada IPv6 terdapat alamat khusus, yaitu:
            – ::/128, artinya semua alamat adalah 0 dengan netmask 128
            – ::1/128, alamat loopback
            – ::/96, alamat yang digunakan untuk IPv4
            – 2001:db8::/32, alamat global dan yang digunakan untuk IPv6
            – fe80::/64, alamat linklocal
            – ff00::/8, alamat multicast untuk IPv6

Subnetting

Subnetting
                Subnetting adalah pembagian suatu jaringan menjadi lebih kecil untuk mempermudah dalam pengelolaan jaringan. Subnetting dapat menjadi solusi untuk mengurangi adanya tubrukan dalam jaringan, kemudian juga efisiensi, dan pengoptimalan dalam proses pengiriman data dalam jaringan.
Subnetmask
                Jaringan bisa dibagi menjadi beberapa jaringan kecil dengan membagi IP address dengan pembaginya yang disebut sebagai subnetmask atau biasa disebut netmask. Netmask memiliki format sama seperti IP address. Setiap subnet ditentukan dengan menggunakan subnetmask bersama-sama dengan no IP
Subnet mask notasi
                Ada dua bentuk notasi subnet, notasi standar dan CIDR (Classless Internet Domain Routing) notasi. Kedua versi dari notasi menggunakan alamat dasar (atau alamat jaringan) untuk menentukan titik awal jaringan,
Subnet mask default dibuat berdasarkan kelas-kelas alamat IP. Tabel di bawah ini berisi beberapa subnet mask default:

Cara Menghitung Subnet
a.  Menggunakan static subnetting.
                Jika semua subnetwork dalam satu jaringan menggunakan subnet mask yang sama, hal itu disebut sebagai 'Static Length subnetting.
Keuntungan Statis subnetting:
1)  Mudah untuk mengkonfigurasi.
2) asli IP routing hanya mengerti subnetting statis
b. Menggunakan variable length subnetting
Jika subnetwork yang berbeda dalam satu jaringan menggunakan mask subnet yang berbeda, hal itu disebut sebagai panjang variabel subnetting
Keuntungan dari Subnetting Variable Length:
1) addressess Ip dialokasikan tergantung pada   jumlah host hadir dalam subnetwork.
2) addressess ip host yang tersedia secara efisien digunakan dan tidak sia-sia
Ada dua pendekatan dalam melakukan pembentukan subnet yaitu :
  1. Berdasarkan jumlah jaringan yang akan dibentuk :
                1. Menentukan jumlah jaringan yang dibutuhk an dan merubahnya menjadi biner.
                2. Menghitung jumlah bit dari nomor 1.
                3. Jumlah bit hostID baru adalah HosTID lama dikurangi jumlah bit nomor 2.
                4. Isi subnetID dengan 1 dan jumlahkan dengan                NetIDLama.
b. Berdasarkan jumlah host yang dibentuk dalam jaringan.
                1. Ubah IP dan netmask menjadi biner.
                2. Memilih jumlah host terbanyak dalam suatu jaringan dan rubah menjadi biner.
                3. Hitung jumlah bit yang dibutuhkan angka biner  pada nomor 1.
                4. Ubah netmask jaringan kita dengan cara menyisakan angka 0 sebanyak jumlah perhitungan           nomor 3.

Network Service, Arsitektur dan Komunikasi Data

Pengertian Network
Jaringan (network) adalah kumpulan dua atau lebih sistem komputer yang terhubung yang mana terdiri atas komputer dan perangkat jaringan lainnya seperti: kabel, switch, HUB, router, dll yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama.
Jenis Network Service 
Terdapat empat jenis network service:

   1. User management
       terdiri dari berbagai macam layanan, dari pembuatan user name dan password sampai dengan alokasi hak rights, privileges, dan access.Sebagai contoh, jika terdapat seorang karyawan baru, maka network administrator perlu membuatkan sebuah akun baru (dengan hak akses yang telah ditentukan) untuk dapat mengakses jaringan.

    2.  Email 
      merupakan salah satu tipe network service yang mungkin telah seringkali Anda gunakan. Dengan menggunakan layanan email, Anda dapat berkomunikasi – berkirim pesan dengan pengguna jaringan lainnya secara mudah

 3. Shared printing
akan memungkinkan Anda untuk berbagi penggunaan printer pada jaringan, sehingga semua pengguna jaringan memiliki akses pada printer yang sama.

4. System administratio
Merupakan  kemampuan untuk mengontrol semua workstation dari sebuah lokasi pusat. Tanggung jawab system administration dipegang oleh seseorang yang memiliki predikat sebagai network administrator


Protokol komunikasi komputer
          Aturan-aturan dan perjanjian yang mengatur pertukaran informasi antar komputer melalui suatu medium jaringan mendefinisikan Syntax : susunan, format, dan pola bit serta bytes. Semantics : Kendali sistem dan konteks informasi (pengertian pola bit dan bytes). Suatu sistem komunikasi data yang kompleks tidak menggunakan satu protocol. Menggunakan sekelompok protokol (protocol suite /protocol familiy). Mengapa perlu protocol suite? Menangani beragam masalah yang timbul ketika mesin berkomunikasi melalui suatu jaringan data Hardware failure, Network congestion, Packet delay or loss, Data corruption, Data duplication or inverted arrivals. Akan sulit membuat satu protokol tunggal yang menangani masalah-masalah di atas

B.   Open System Interconnection (OSI) Reference Model
Dikembangkan oleh International Organization for Standardization (ISO) pada tahun 1984. Model referensi OSI adalah suatu model konseptual yang terdiri atas tujuh layer, masing-masing layer mempunyai fungsi tertentu. Setiap layer adalah self-contained à fungsi yang diberikan ke setiap layer dapat diimplementasikan secara independent àUpdating fungsi suatu layer tidak akan mempengaruhi layer yang lain. OSI memungkinkan interkoneksi komputer multivendors.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDHRQi0WyCu7CTujsBsZjMp6Ip7xhD-d4578gMzmOUBQ_LPakpDyQru-iH0Lxmagd9CkENxVR6l0n-WwK0qrzYVUrvLSIw7DCszyiIvFlU3ya3QxM1Ktrf9MJNPoF-1x-bdCMBoVdXXwR7/s200/images+%25281%2529.jpg

C.   Interaksi antar layer OSI

·         Interaksi dengan layer di atasnya
·         Interaksi dengan layer di bawahnya
·         Interaksi dengan layer peer di sistem yang berbeda


D.   Physical Layer
Mengirimkan dan menerima data mentah pada media fisik . Prosedural : pengkodean bit untuk transmisi, full-duplex atau half-duplex, prosedur untuk memulai dan menghentikan transmisi. Mendeteksi dan melaporkan status saluran dan error (misal : adanya collision). Karakteristik elektris : level tegangan, timing, redaman yang diperbolehkan . Karakteristik mekanik : ukuran dan bentuk konektor, jumlah pin, tipe kabel dan spesifikasinya .Contoh : RS232C

E.   Data Link Layer
Medium access control (MAC): Menyediakan aliran data yang bebas kesalahan bagi network layer, mendeteksi/mengoreksi kesalahan akibat transmisi. Menerima data dari layer yang lebih atas dan merubahnya menjadi aliran bit untuk ditransmisikan oleh layer fisik. Pada proses penerimaan, merubah aliran bit menjadi frame. Menambahkan kode untuk sinkronisasi, deteksi kesalahan . Menyediakan mekanisme untuk menangani kehilangan (lost), kerusakan, atau duplikasi frame. Pengalamatan fisik

F.    Network Layer
Fungsi : Merutekan paket , Mengendalikan kongesti , Melaksanakan internetworking. Contoh: Open Shortest Path First (OSPF), Routing Information Protocol (RIP), dsb.

G.   Transport Layer
Menerapkan layanan transport data andal yang transparan terhadap upper layers . flow control, multiplexing, manajemen virtual circuit, serta error checking & error recovery. End-to-end. Contoh : Transmission Control Protocol (TCP), Name Binding Protocol (NBP), OSI transport protocol

H.   Session Layer
Membentuk, me-manage, dan memutuskan session komunikasi antara entitas presentation layer . Session komunikasi terdiri atas permintaan layanan (service request) dan tanggapan layanan (service response) yang terjadi antara aplikasi yang berlokasi pada device jaringan yang berbeda . Contoh : CCITT X.225

I.     Presentation Layer
Fungsi pengkodean dan konversi untuk data dari application layer à menjamin data yang berasal dari application layer suatu sistem dapat dibaca oleh application layer  di sistem yang lain. Contoh : Format representasi data: EBDIC, ASCII, Skema kompresi : QuicTime, MPEG, Enkripsi

J.    Application Layer
Layer OSI yang paling dekat dengan end user . Berinteraksi dengan aplikasi perangkat lunak yang menerapkan suatu komponen untuk berkomunikasi . Fungsi : Menentukan partner komunikasi , Menentukan ketersediaan resource , Sinkronisasi komunikasi . Contoh : Telnet, FTP, SMTP (TCP/IP suit), OSI Common Management Information Protocol (CMIP)

K.   Internet (TCP/IP) protocol stack
·         application: mendukung aplikasi jaringan ( ftp, smtp, http)
·         transport: transfer data antar aplikasi  (tcp, udp )
·         network: merutekan datagrams dari sumber ke tujuan (ip, routing protocols)
·         link: transfer data antar elemen jaringan (ppp, ethernet )
·         physical: pengiriman bit-bit pada medium transmisi 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnA5ri1xEBCwzQXw6MN2Cf5B-0tY-vEvIGQDFydv4Jw1-npvcgaFbJi1yHHNxO015gtVhshdBW825F3qLSJm2Up0IaLiXtpLFkMwa2kDIPypFXsnb3E3EIEBPnv-0rnpzlsC-1Wv07dpky/s1600/b.JPG


L.    Layering: logical communication
Setiap layer: terdistribusi , Setiap entitas menerapkan fungsi layer pada setiap node, Setiap entitas melakukan pertukaran messages dengan peer-nya . Layering: logical communication . Mis.: transport . Menerima data dari aplikasi . Menambahkan pengalamatan, dan mekanisme pengujian sehingga terbentuk “datagram”.  Mengirimkan datagram ke peer layer. Menunggu ack dari peer.
sumber: